Tips Perawatan Telur Sebelum Ditetaskan

ayam legh hornTips Perawatan Telur Sebelum Ditetaskan – Penetasan dan pemeliharaan telur yang dihasilkan dari perkawinan antara ayam hutan jantan dan ayam kampung betina ini tidak jauh berbeda dengan ayam kampung biasa. Pada umumnya satu ekor ayam kampung mampu bertelur 9-12 butir dalam satu kali masa bertelur. Bila ditetaskan hasil yang diperoleh dapat mencapai 75% ayam bekisar jantan dan 25% ayam bekisar betina. Tetapi ada pula sebaliknya yakni 25% jantan dan 75% betina. Tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa rata-rata ayam bekisar yang dihasilkan 50% jantan dan 50% betina.

Untuk mendapatkan hasil tetasan yang maksimal dan bibit bekisar yang berkualitas tinggi, beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan:

1. Perawatan Induk Petelur
Bibit ayam yang baik merupakan salah satu sarana produksi ternak yang penting, di samping ransum dan lain-lain, dalam usaha penangkaran ayam bekisar. Induk petelur yang baik harus telah mengalami pemuliaan (breeding) berdasarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan usaha pemuliaan tersebut, seperti ilmu keturunan, ilmu makanan ternak, ilmu matematika, tatalaksana, kesehatan ternak dan lain sebagainya.

Seekor ayam petelur masak kelamin akan menghasilkan telur (berproduksi) menurut pola tertentu. Pola ini sejalan dengan umur ayam petelur yang bersangkutan. Ayam kampung betina induk pada umumnya mulai berproduksi pada umur 6-8 bulan. Dalam keadaan tidak biasa ayam-ayam ini akan bertelur lebih awal atau lebih lambat dari biasanya. Ayam-ayam yang mendapat ransum dengan kandungan protein lebih tinggi pada saat pertumbuhan, akan bertelur lebih cepat, demikian pula sebaliknya. Ayam yang bertelur terlalu cepat akan menghasilkan telur yang kecil-kecil, karena pengarang telur (uterus) belum berkembang secara sempurna. Oleh sebab itu beberapa peternak sengaja memperlambat masak kelamin dengan maksud agar pengarang telur (uterus) tumbuh sempurna sehingga telur yang dihasilkan lebih besar.

Induk petelur (ayam kampung betina) harus selalu mendapatkan perawatan yang baik. Cara perawatannya sama dengan perawatan ayam kampung pada umumnya, hanya saja harus disesuaikan dengan sistem perkawinan yang akan dipergunakan. Pemberian makanan sama dengan ransum yang diberikan pada ayam jantannya. Selain itu sanitasi dan vaksinasi harus selalu diperhatikan. Untuk itu diperlukan catatan (recording) dalam pengelolaan sehari-harinya, antara lain dalam hal:

  • Jumlah dan tanggal dimasukkan dalam kandang perjodohan (kandang sendiri)
  • Umur ayam pada saat dimasukkan dalam kandang
  • Produksi telur (awal bertelur, akhir dan jumlah telur)
  • Jumlah makanan setiap hari
  • Tanggal dan jenis vaksinasi
  • Pengobatan yang pernah dilakukan.

Dengan adanya catatan tersebut, kita dapat membuat gambaran tentang pengembangbiakan ayam bekisar yang ditanganinya.

Ayam kampung betina yang telah dikawin oleh ayam hutan jantan dipelihara secara terpisah dengan ayam hutan jantannya, tetapi tidak boleh dilepas bebas berkeliaran. Pemberian makanan tetap di dalam kandang tersebut dan makanan yang diberikan harus bergizi tinggi. Setiap kali ayam induk tersebut bertelur, telur-telurnya harus segera diambil, supaya tidak dierami oleh induknya. Sebab, ayam mempunyai sifat/naluri mengerami telurnya. Setelah masa bertelur selesai, induk ayam tersebut dimandikan, supaya dapat segera dikawinkan lagi.

2. Perawatan Telur
Telur ayam memiliki struktur khusus yang sebagian besar terdiri dari bahan makanan dan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan embrio, sebagai hasil dari pembuahan sel telur tunggal oleh ayam jantan. Telur ayam terdiri dari kulit telur, selaput putih telur dan kuning telur. Struktur kulit telur ayam keras tetapi porus dan terbentuk dari garam anorganik (terutama calcium carbonat). Keporusan tersebut berfungsi untuk pernafasan embrio.

Telur ayam mudah sekali rusak, terutama apabila perawatan dan penanganannya tidak dilakukan dengan baik. Di samping itu telur ayam juga mudah sekali rusak karena pengaruh keadaan sekelilingnya. Misalnya, kelembaban udara, pencemaran mikroba, jamur, dan sebagainya. Oleh karena itu sebelum telur tersebut ditetaskan, perlu dilakukan penyortiran dan perawatan atau penyimpanan yang cermat.

Penyortiran telur
Telur yang tidak layak untuk ditetaskan harus diafkir (dapat dikonsumsi). Sedangkan telur yang baik untuk ditetaskan adalah sebagai berikut:

  • Kulit telur        :   Berbentuk normal, sehat dan bersih.
  • Kuning telur  :   Letaknya di tengah pusat, tidak terang dan tidak gelap, terjadi pergerakan secara pelan bila telur tersebut diputar di depan lampu candling.
  • Putih telur      :   Terang dan jelas serta bebas dari noda dan bau busuk.
  • Ruang udara  :    Normal.

Telur-telur yang memenuhi syarat tersebut di atas dapat dipilih untuk ditetaskan.

Penyimpanan telur
Telur yang dihasilkan, sebelum sampai pada jumlah yang diinginkan untuk ditetaskan, baik dieramkan maupun dengan menggunakan mesin tetas, perlu disimpan terlebih dahulu.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam menyimpan telur tersebut adalah sebagai berikut:

  • Telur disimpan pada temperatur kamar.
  • Telur ditempatkan sedemikian rupa sehingga:
    – Evaporasi (penguapan air) seminimum mungkin.
    – Tempat penyimpanan harus bersih untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur..
    – Penyimpanan tidak boleh terlalu lama.
    – Aman dari benturan benda lain.

Dengan penyimpanan yang baik, telur yang telah dibuahi oleh sel spermatozoa ayam hutan dapat terlindung dari pengaruh-pengaruh luar.

Baca halaman Cara Mengetahui Kesuburan Wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *