Cara Mudah Menetaskan Telur Ayam Bekisar

telur ayam

Penetasan Telur Ayam Bekisar – Keberhasilan pengembangbiakan ayam bekisar selain makanan, breeding dan pemeliharaan juga cara penetasannya. Penetasan telur dapat diiakukan dengan 2 cara, yakni:

  1. Penetasan Alami (dieramkan)
    Setelah selesai masa bertelur, secara alami ayam memiliki sifat mengerami. Pada umumnya ayam kampung betina induk mampu mengerami 12 butir telur selama 21 hari.
    Pengeraman telur dapat diiakukan oleh induk yang menghasilkan telur tersebut atau dititipkan/dieramkan pada induk lain yang sedang mengerami. Bila pengeraman dilakukan oleh induk lain, maka induk yang menghasilkan telur tersebut segera dimandikan dengan air, supaya sifat mengerami tersebut hilang dan dalam waktu yang relatif pendek dapat dikawinkan lagi.
    Telur yang dieramkan harus ditempatkan pada tempat yang aman dan nyaman bagi ayam, misalnya, dengan diberi alas jerami atau rumput kering. Penempatannya harus terhindar dari gangguan binatang, perubahan cuaca (hujan) atau manusia.
    Pada saat pengeraman ayam kampung atau induk nafsu makannya menurun dan tidak mau makan di tempat pengeraman. Oleh karena itu pemberian makanan harus cukup mengandung gizi dan pemberiannya secara teratur.
  2. Penetasan Buatan (dengan mesin tetas)
    Penetasan telur dengan mesin tetas memerlukan perhatian khusus, karena terdapat beberapa perlakuan yang harus dilaksanakan, antara lain:
  • Membalik telur sehari 2 kali, ini diiakukan setelah hari ke-4 sampai ke-18.
  • Mendinginkan telur selama ±15 menit, sehari sekali, diiakukan pada hari ke-4 sampai ke-18.
  • Temperatur pada hari pertama sampai minggu ke-2 adalah 101° F sampai 102° F. Pada minggu ke-2 sampai hari ke-18 adalah 102° F sampai 102,5° F. Pada hari ke-18 sampai menetas adalah 103° F.
  • Perlu diperhatikan bahwa pada hari pertama sampai hari ke-3 dan hari ke-18 sampai menetas, mesin tidak boleh dibuka.
  • Air dalam mesin tetas yang berfungsi sebagai pengatur kelembaban, tidak boleh sampai habis/kering. Oleh karena itu harus dipantau secara tems-menems.
  • Ventilasi mesin pada akhir minggu ke-1 dibuka selebar V3 bagian; pada akhir minggu ke-2 dibuka 2/3 bagian; dan pada hari ke-18 hingga menetas dibuka seluruhnya.
  • Pemeriksaan telur yang ditetaskan untuk mengetahui jadi atau tidaknya, dapat diiakukan pada akhir minggu pertama. Bila terdapat gumpalan gelap yang bergerak atau melayang-layang berarti jadi, demikian sebaliknya.
  • Telur yang akan ditetaskan harus dipilih yang memiliki:
    – besarnya seragam;
    – tebalnya kulit sama;
    – kulit halus dan tidak kasar.
  • Anak ayam yang baru menetas nanus diambil bila sudah kering (± 12 jam).
  • Anak ayam yang bergerak lincah segera diambil. karena biasanya akan jatuh terjepit di sela-sela mesin tetas.
  • Anak ayam yang baru menetas ditempatkan pada boks yang dilengkapi dengan penghangat hingga umur 1 bulan
  • Untuk mendapatkan mesin penetas telur yang murah dan berkualitas, Anda bisa mengunjungi halaman berikut “jual mesin tetas otomatis“.

Seleksi Anak Ayam Bekisar
Dalam usaha penangkaran ayam bekisar, kita hanya membutuhkan ayam bekisar yang jantan saja. Oleh karena itu, setelah anak ayam bekisar tersebut berumur 1 bulan harus kita seleksi untuk dipilih yang jantan saja, sedangkan yang betina kita afkir atau kita sendirikan. Cara menyeleksi anak ayam bekisar yang biasa dilakukan (secara tradisional) oleh para penangkar ayam bekisar adalah sebagai berikut:

  • Bila kaki induknya putih, maka anak ayam yang kakinya putih berarti jantan.
  • Bila kaki anaknya putih kehitam-hitaman berarti betina. Demikian juga bila warna kaki induknya kuning.
  • Anak ayam bekisar (yang masih kutuk)
    1. Kakinya putih berarti bekisar jantan
    2. Kakinya putih kehitaman berarti bekisar betina
  • Ayam bekisar betina (pada umumnya mandul)
  • Bila kaki induknya hitam, maka penentuan jenis kelamin anaknya berdasarkan jenggernya. Bila jenggernya polos (tidak bergerigi) berarti bekisar jantan, sedangkan bila bergerigi berarti bekisar betina. Atau penentuan ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat “Optical Sexing Instrument”.
  • Hasil seleksi ini ditempatkan pada kurungan dan dikerek seperti burung perkutut. Sedangkan bekisar betina pada umumnya mandul dan harus diafkir.

Artikel Menarik Lainnya : Tips Perawatan Telur Sebelum Ditetaskan

Beberapa Penyakit Ayam dan Pengendaliannya Part 2

tanda_ayam_sakitA.  BERAK KAPUR (Pullorum)
Penyakit pullorum merupakan suatu penyakit menular pada ayam yang juga dikenal dengan nama “Berak Putih” (Bacil White Diarrhea). Angka kematian dapat mencapai 85%, terutama bagi anak ayam yang baru menetas. Pada ayam dewasa, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas, tetapi dapat menularkan penyakit ini pada ayam yang lain.
1.    Penyebabnya:
• Bakteri Salmonella pullorum
• Bakteri ini tumbuh optimum pada temperatur 37° C
• Ayam yang diserang dan cara penularannya
• Ayam bekisar segala umur dapat terserang, tetapi yang paling peka terhadap penyakit ini adaiah anak ayam yang berumur ±2-3 minggu
• Penularannya dapat melalui:
–    Keturunan dari induknya/telur;
–    Makanan dan minuman yang tercemar;
–    Debu yang mengandung bakteri ini dan terhisap oleh ayam.

2. Gejalanya:
•    Ayam kelihatan ngantuk dan nafsu makan menurun;
•    Beraknya berwarna putih atau coklat kehijauan;
•    Terdapat gumpalan seperti pasta di sekitar kloaka;
•    Sayap menggantung;
•    Sesak nafas;
•    Kaki ayam lumpuh atau lemah.

3. Pencegahannya:
•    Sanitasi dan tata laksana pemeliharaan yang baik;
•    Apabila ada ayam yang mati karena pullorum harus dibakar atau dikubur;
•    Ayam yang terserang penyakit ini disendirikan.

5.    Pengobatannya:
•    Belum ada pengobatan yang dapat mengatasi penyakit ini se-cara memuaskan;
•    Pengobatan dengan preparat antibakterial hanya dapat menekan angka kematian (tidak dapat menghilangkan infeksinya).

B. CHRONIC RESPIRATORY DISEASE (CRD)
Penyakit CRD merupakan suatu penyakit menular yang menahun. Penyakit ini akan lebih parah apabila disertai dengan infeksi sekunder, tetapi angka kematiannya rendah.

1.    Penyebabnya:
•    Bakteri Mycoplasma gallisepticum; bakteri ini dapat hidup se-lama 1-3 hari dalam tinja ayam pada suhu 20° C.
•    M. gallisepticum tahan terhadap penicilin dan peka terhadap sinar matahari.

2.    Ayam yang diserang dan cara penularannya:
•    Ayam bekisar ataupun ayam hutan sangat peka terhadap penyakit ini;
•    Ayam yang berumur muda lebih peka terhadap penyakit CRD daripada yang dewasa;
•    Sumber penularan adalah ayam penderita; alat-alat, makanan dan minuman yang tercemar penyakit ini;
•    Ayam yang stres juga sangat mudah terserang oleh penyakit ini.

3.    Gejalanya:
•    Keluarnya ingus kental dari hidung;
•    Batuk-batuk dan terdengar suara ngorok waktu bemafas, dan muka ayam membengkak.

4.    Pencegahannya:
•    Sanitasi dan tata laksana pemeliharaan yang baik.
•    Vaksinasi dengan vaksin CRD.

5.    Pengobatannya:
Ayam bekisar yang terserang penyakit ini dapat diberi obat:
•    Streptomycin;
•    Oxytetracyclin;
•    Atau antibiotik lain yang berspektrum luas.

C.   TETELO (Newcastle Disease/ND)
Penyakit tetelo merupakan suatu penyakit menular yang telah me-nyebar di seluruh Indonesia. Angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi.

1.    Penyebabnya:
•    Virus tetelo; virus ini dapat mati pada temperatur 50° C, 1 minggu pada suhu 22 – 28° C dan berbulan-bulan pada karkas beku;
•    Virus ND tidak tahan terhadap sinar ultra-violet, sinar matahari dan bahan fumigasi.

2.    Ayam yang diserang dan cara penularannya:
•    Ayam bekisar cukup peka terhadap penyakit tetelo, demikian pula ayam hutan;
•    Ayam bekisar muda lebih peka terhadap penyakit ini daripada ayam bekisar dewasa;
•    Ayam yang terserang tetelo tetapi dapat sembuh kembali dapat menjadi kebal terhadap penyakit tetelo selama 6-12 bulan, demikian pula bila dilakukan vaksinasi;
•    Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit, makanan, minuman dan udara yang tercemar oleh penyakit ini.

3.    Gejalanya:
•    Ayam tidak mau makan;
•    Ayam mengalami diare bercampur darah;
•    Ayam mengalami sesak nafas dan ngorok;
•    Ayam batuk-batuk dan bersin-bersin;
•    Warna tulang dan pialnya membiru;
•    Sayapnya terkulai;

Ayam yang terserang penyakit Tetelo (ND)
•    Lehernya terputar (tortiocoHs);
•    Kakinya lumpuh.

4.    Pencegahannya:
•    Sanitasi dan tatalaksana pemeliharaan hams baik;
•    Ayam yang sakit disendirikan dan yang sehat divaksinasi dengan vaksin ND;
•    Vaksinasi ND dilakukan sejak ayam berumur 1-7 hari, diulangi lagi pada umur 1 bulan, 2-3 bulan, 4-5 bulan dan seterusnya setiap 6 bulan sekali;
•    Jenis vaksin yang diberikan sesuai dengan masing-masing umur ayam tersebut.
5.    Pengobatannya:
•    Penyakit tetelo tidak dapat diobati, hanya dapat dilakukan pencegahan dengan pemberian vitamin supaya kondisi tubuh ayam
tahan terhadap serangan penyakit ini.

D.  NEMATODOSIS
Nematodosis adalah jenis penyakit ayam yang disebabkan oleh cacing Nematoda. Penyakit ini menyerang ayam bekisar pada bagian trachea. Walaupun angka kematian akibat penyakit ini tidak tinggi, akibat yang ditimbulkannya cukup fatal, sebab dapat mempengaruhi suara kokok ayam bekisar.

1.    Penyebabnya:
•    Penyebabnya adalah Singamus trachea, yang hidup atau menyerang bagian trachea ayam. Cacing ini berwama merah segar.

2.    Ayam yang diserang dan cara penularannya:
•    Ayam yang mudah terserang adalah ayam yang pemeliharaannya kurang baik, terutama masalah kebersihan kandang dan tempat makanan;
•    Ayam muda lebih peka terhadap penyakit ini daripada ayam dewasa;
•    Penularannya terutama melalui makanan atau minuman yang mengandung telur-telur cacing ini.

3.    Gejahnya:
•    Ayam menjadi semakin kurus;
•    Bernafasnya sulit;
•    Suara kokoknya serak;
•    Matanya berair dan anemis.

4.    Pencegahannya:
•    Sanitasi kandang dan hygiene makanan dan minuman harus selalu terjaga dengan baik;
•    Ayam yang sakit harus disendirikan dan dilakukan pengobatan.

5.    Pengobatannya:
•    Pemberian obat cacing pencernaan dan pernafasan secara teratur;
•    Pemberian vitamin-vitamin untuk membantu dalam penyembuhan.
E.  PENYAKIT BUBUL
Penyakit bubul adalah penyakit yang menyerang telapak kaki ayam karena adanya luka di telapak kaki ayam tersebut.
1.    Penyebabnya:
•    Luka pada telapak kaki ayam yang terkena infeksi oleh bakteri;
•    Alas kandang yang kasar, sehingga menyebabkan terjadinya luka-luka di telapak kaki.

2. Gejalanya:
•    Telapak kaki membengkak dan panas;
•    Ayam pincang dan sulit berdiri;
•    Luka tersebut akan membengkak dan bernanah, dan membusuk.

3.    Pencegahannya:
•    Alas kandang hams halus supaya tidak menimbulkan luka pada kaki ayam;
•    Sanitasi dan kebersihan kandang hams dilakukan secara rutin;
•    Ayam sering dimandikan, terutama kotoran-kotoran yang melekat pada bagian telapak kaki hams dibersihkan.

4.    Pengobatannya:
•    Operasi dan pengobatan dengan antibiotika.
F.  KAKI BERSISIK (Scaly Leg)
Penyakit ini sering ditemukan pada ayam bekisar yang telah cukup umur (tua).
1.    Penyebabnya:
•    Penyebabnya adalah Tungau kaki; tungau ini banyak terdapat
pada kotoran ayam di dalam kandang.

2.    Gejalanya:
•    Kaki ayam bersisik dan berkerak;
•    Kaki ayam membesar;
•    Bila terjadi luka akan menimbulkan infeksi sekunder.

3.    Pencegahonnya:
•    Kebersihan kandang harus selalu terjaga;
•    Ayam sering dimandikan.

4.    Pengobatannya:
•    Kaki dibersihkan dengan air hangat, kemudian diolesi salep
(campuran minyak tanah dengan belerang = 1:2).

 

kunjungi juga Beberapa Penyakit Ayam dan Pengendaliannya

Beberapa Penyakit Ayam dan Pengendaliannya

white-leghorn

Beberapa Penyakit Ayam dan Pengendaliannya – Demi suksesnya pemeliharaan atau penangkaran ayam bekisar, selain memperhatikan mutu makanan dan kesehatan, kita juga harus memperhatikan masalah penyakit dan pengendaliannya, terutama penyakit-penyakit yang sering menyerang ayam bekisar. Penyakit yang sering menyerang ayam bekisar adalah sebagai berikut:

A.  KOLERA UNGGAS (Fowl Cholera)
1.    Penyebabnya:
•    Pasteurelh multocida, yakni bakteri yang berbentuk ovoid;
•    Bakteri ini dapat bertahan hidup dalam kotoran ayam selama 1 bulan, dalam bangkai 3 bulan dan dalam litter sampai 2 minggu.

2.    Ayam yang diserang dan cara penularannya:
Penyakit ini terutama menyerang ayam yang masih muda. Penularannya melalui saluran pencernaan, saluran pernafasan, lewat luka atau melalui suntikan. Sedangkan pembawa penyakit (vektor) ini adalah lalat, tikus. tungau dan burung liar. Ayam bekisar yang stres karena transportasi, perubahan cuaca, pemindahan kandang dan kekurangan vitamin mudah sekali terserang penyakit ini.

3.    Gejalanya:
•    Sub akut :
–   Ayam mati tanpa tanda-tanda yang jelas;
–    Pada serangan awal, penyakit ini dapat menyebabkan kematian cukup tinggi.
•    Akut        :
–   Radang pada mata;
–    Adanya kotoran pada mata;
–    Pial membesar;
–    Sulit bernafas;
–    Tinja encer berwarna hijau kekuningan;
–    Ayam lumpuh.
•    Kronis     :
–   Pial membengkak berisi cairan;
–    Kebengkaan pada sendi kaki dan sayap, sehingga lumpuh.

4.   Pencegahannya:
a.    Vaksinasi
•    Dilakukan vaksinasi ayam/unggas di daerah yang tertular.
•    Vaksinasi dilakukan pada ayam bekisar berumur 6-8 minggu dan diulangi pada umur 8-10 minggu.
b.    Sanitasi
•    Kandang yang telah tertular harus dihapushamakan atau diistirahatkan selama ± 3 bulan.
•    Antara ayam yang sakit dan yang sehat dipisahkan, dan yang sakit diobati; sedangkan yang sehat divaksinasi.

5.    Pengobatannya:
a.    Antibiotika
•    Suntikan Streptomycin 150.000 mg, terutama untuk awal penyakit;
•    Suntikan Terramycin 25 mgAg berat badan.
b.    Preparat Sulfa
•    Sulfaquinoxalin 0,05%, diberikan dalam air minum;
•    Sulfamethasin dan Sodium Sulfamethasin 0,5 – 1,0%, diberikan dalam makanan;
•    Sulfamersin 0,5%, diberikan dalam makanan;
Dosis 120 mg/kg berat badan, diberikan lewat mulut.

B.  CACAR AYAM (Fowl Fox)
Penyakit ini termasuk penyakit menular, tetapi penyebarannya lambat. Penyakit ini dapat tumbuh cepat pada bagian yang tidak berbulu atau pada selaput lendir daerah mulut. Angka kematian akibat penyakit cacar sangat rendah (1 – 2%).
1.  Penyebabnya:
•    Virus cacar ayam;
•    Virus yang terdapat dalam keropeng yang terlepas dapat tahan hidup selama 3-4 tahun.

2.   Ayam yang diserang dan cara penularannya:
•   Ayam bekisar semua umur, terutama menjelang dewasa. Penu-laran cacar ayam ini melalui luka kulit, makanan yang terkontaminasi keropeng atau melalui patuk mematuk secara langsung.
•    Pembawa (uektor) dari penyakit ini adalah nyamuk.

3.    Gejalanya:
•    Pada kepala dan kaki atau bagian tubuh lain yang tidak di-tumbuhi bulu terdapat bintil-bintil kecil (papula), kemudian akan membesar dan membentuk keropeng. Bila keropeng ini dilepas, maka akan terjadi perdarahan;
•    Cacar sering menyerang bagian di sekitar mata.
•    Pada cacar basah akan terlihat bercak-bercak berwarna kuning pada selaput lendir mulut. Cacar yang menyerang saluran nafas akan mengakibatkan ayam sulit untuk bernafas.

4.    Pencegahannya:
•    Daerah yang tertular penyakit cacar segera dilakukan isolasi;
•    Ayam yang sakit diisolasi dan yang sehat dilakukan vaksinasi;
•    Pemberantasan nyamuk (uektor) dengan pestisida.

5.    Pengobatannya:
•    Penyakit ini tidak dapat diobati;
•    Untuk mencegah infeksi sekunder dan untuk memperbaiki kondisi tubuh ayam, maka ayam tersebut perlu diberi vitamin dan antibiotika.

C.  BERAK DARAH (Cocsidiosis)
Berak darah merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian ayam sangat tinggi. antara 80 – 90%.
1.    Penyebabnya:
•    Penyakit ini disebabkan oleh Cocsidia yang termasuk Genus Eimeria. Parasit ini pertumbuhannya tergantung pada PH, kelembaban dan temperatur.

2.    Ayam yang diserang dan cava penularannya:
•    Ayam bekisar yang masih muda mudah terserang penyakit ini, terutama anak ayam yang berumur 4-5 minggu;
•    Sedangkan ayam dewasa jarang tertular karena teiah memiliki kekebalan tubuh;
•    Penularan penyakit Cocsidiosis dapat melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh Cocsidia, atau melalui vektor insekta pengisap darah.

3.    Gejahnya:
•    Tinja berwama hijau (bercampur darah);
•    Nafsu makan menurun;
•    Muntah darah;
•    Paralisa syaraf (sayap terkulai dan kaki lumpuh);
•    Sulit bernafas dan akhimya mati.

4.    Pencegahannya:
•    Kandang harus selalu dibersihkan;
•    Makanan dan minuman jangan sampai tercemar oleh kotoran ayam;
•    Membasmi vektor dengan pestisida (sulit) atau menghindari gigitan serangga dengan jalan menutup sangkarAandang ayam bekisar dengan kain atau kelambu.

5.    Pengobatannya:
•    Penyakit ini sulit diobati; pengobatan hanya untuk penghambat pertumbuhan Cocsidia saja, yakni dengan Cocsidiostat.

D.   KORIZA (Infectious Coryza/Snot)
Koriza merupakan penyakit menular yang terdapat hampir di seluruh dunia. Masa inkubasi dari penyakit ini cukup lama (kronis), yakni 3-4 bulan. Angka kematiannya rendah, namun yang dapat menyerang ayam cukup banyak.
1.    Penyebabnya:
•    Penyebabnya adalah bakteri Hemophilus gallinarum. Bakteri ini tidak tahan hidup di luar tubuh ayam.
•    Bakteri ini sangat peka terhadap pengaruh luar, sehingga bakteri ini akan mati setelah 4-5 jam.

2.    Ayam yang diserang dan cara penularannya:
•    Ayam bekisar yang peka terhadap penyakit ini adalah yang berumur lebih dari 4-5 bulan;
•    Sedangkan ayam bekisar yang masih muda lebih tahftn pada yang dewasa;
•    Penyakit Koriza menular melalui:
–    Kontak langsung dengan penderita;
–    Makanan dan minuman yang tercemar oleh bakteri ini;
–    Ayam yang sudah sembuh merupakan vektor.

3.    Gejahnya:
•    Dari hidung keluar cairan encer berwarna kuning, kemudian mengental dan bernanah yang baunya busuk;
•    Di sekitar hidung terdapat kerak berwarna kuning;
•    Di sekitar mata dan hidung membengkak sehingga mata menjadi tertutup;
•    Ayam sulit bernafas dan ngorok;
•    Ayam mengalami diare dan pertumbuhannya terlambat.

4.    Pencegahannya:
•    Pemeliharaan dan kebersihan (sanitasi) harus selalu terjamin;
•    Ayam yang terserang penyakit Koriza disendirikan dan dilakukan pengobatan; sedangkan ayam yang sehat dilakukan suntikan vaksinasi;
•    Vaksinasi yang baik dilakukan pada umur 8-10 minggu dan diulangi pada umur 16 – 18 minggu;
•    Ayam yang mati karena penyakit ini harus dibakar di tempat yang jauh dari kandang.

5.    Pengobatannya:
Obat-obatan yang dapat diberikan adalah;
•    Sulfathiazole;
•    Sulfamethazine;
•    Sulfamerazine;
•    Erytrhomycin.

E.  INFECTIOUS LARYNGO TRACHEITIS (ILT)
Penyakit Infectious Laryngotracheitis ini sangat cepat penularannya dan angka kematian dapat mencapai 10-70%. Ayam yang terserang penyakit ini dapat mati atau sembuh setelah 5-6 hari. Penularan penyakit ini dalam suatu kelompok ayam bekisar sampai 2 minggu.
1.    Penyebabnya:
•    Penyakit ini disebabkan oleh Herpes virus;
•    Virus ini dapat tahan hidup pada suhu di bawah 0°,C, tetapi dapat mati dengan desinfektan atau sinar matahari secara langsung;
•    Virus ini dapat hidup lama di dalam bangkai ayam dan merupakan sumber penularan bagi ayam yang lain.

2.    Ayam yang diserang dan cara penularannya:
•    Ayam yang berumur lebih dari 14 minggu lebih peka terhadap penyakit ini daripada ayam yang lebih muda;
•    Penularannya melalui kontak secara langsung atau tidak langsung dengan ayam yang sakit;
•    Ayam yang sudah sembuh dari penyakit ILT dapat menjadi sumber penularan penyakit ini selama 24 bulan.

3.    Gejalanya:
•    Mata ayam selalu basah atau mengeluarkan air mata;
•    Batuk-batuk dan bersin;
•    Kepala dikibas-kibaskan;
•    Leher dijulurkan ke depan dan mulutnya terbuka;
•    Kadang-kadang dari mulutnya keluar lendir berdarah;
•    Ayam mati dalam keadaan tubuh yang baik.

4.    Pencegahannya:
•    Ayam yang menderita ILT disendirikan atau dimusnahkan;
•    Ayam yang sehat dilakukan vaksinasi ILT;
•    Sanitasi dan pemeliharaan hams dilakukan dengan sebaik-baiknya.

5.    Pengobatannya:
•    Penyakit ini tidak dapat diobati;
•    Pemberian vitamin dan antibiotik hanya bertujuan mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Kunjungi Halaman Penetasan Telur Ayam Bekisar

Tips Perawatan Telur Sebelum Ditetaskan

ayam legh hornTips Perawatan Telur Sebelum Ditetaskan – Penetasan dan pemeliharaan telur yang dihasilkan dari perkawinan antara ayam hutan jantan dan ayam kampung betina ini tidak jauh berbeda dengan ayam kampung biasa. Pada umumnya satu ekor ayam kampung mampu bertelur 9-12 butir dalam satu kali masa bertelur. Bila ditetaskan hasil yang diperoleh dapat mencapai 75% ayam bekisar jantan dan 25% ayam bekisar betina. Tetapi ada pula sebaliknya yakni 25% jantan dan 75% betina. Tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa rata-rata ayam bekisar yang dihasilkan 50% jantan dan 50% betina.

Untuk mendapatkan hasil tetasan yang maksimal dan bibit bekisar yang berkualitas tinggi, beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan:

1. Perawatan Induk Petelur
Bibit ayam yang baik merupakan salah satu sarana produksi ternak yang penting, di samping ransum dan lain-lain, dalam usaha penangkaran ayam bekisar. Induk petelur yang baik harus telah mengalami pemuliaan (breeding) berdasarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan usaha pemuliaan tersebut, seperti ilmu keturunan, ilmu makanan ternak, ilmu matematika, tatalaksana, kesehatan ternak dan lain sebagainya.

Seekor ayam petelur masak kelamin akan menghasilkan telur (berproduksi) menurut pola tertentu. Pola ini sejalan dengan umur ayam petelur yang bersangkutan. Ayam kampung betina induk pada umumnya mulai berproduksi pada umur 6-8 bulan. Dalam keadaan tidak biasa ayam-ayam ini akan bertelur lebih awal atau lebih lambat dari biasanya. Ayam-ayam yang mendapat ransum dengan kandungan protein lebih tinggi pada saat pertumbuhan, akan bertelur lebih cepat, demikian pula sebaliknya. Ayam yang bertelur terlalu cepat akan menghasilkan telur yang kecil-kecil, karena pengarang telur (uterus) belum berkembang secara sempurna. Oleh sebab itu beberapa peternak sengaja memperlambat masak kelamin dengan maksud agar pengarang telur (uterus) tumbuh sempurna sehingga telur yang dihasilkan lebih besar.

Induk petelur (ayam kampung betina) harus selalu mendapatkan perawatan yang baik. Cara perawatannya sama dengan perawatan ayam kampung pada umumnya, hanya saja harus disesuaikan dengan sistem perkawinan yang akan dipergunakan. Pemberian makanan sama dengan ransum yang diberikan pada ayam jantannya. Selain itu sanitasi dan vaksinasi harus selalu diperhatikan. Untuk itu diperlukan catatan (recording) dalam pengelolaan sehari-harinya, antara lain dalam hal:

  • Jumlah dan tanggal dimasukkan dalam kandang perjodohan (kandang sendiri)
  • Umur ayam pada saat dimasukkan dalam kandang
  • Produksi telur (awal bertelur, akhir dan jumlah telur)
  • Jumlah makanan setiap hari
  • Tanggal dan jenis vaksinasi
  • Pengobatan yang pernah dilakukan.

Dengan adanya catatan tersebut, kita dapat membuat gambaran tentang pengembangbiakan ayam bekisar yang ditanganinya.

Ayam kampung betina yang telah dikawin oleh ayam hutan jantan dipelihara secara terpisah dengan ayam hutan jantannya, tetapi tidak boleh dilepas bebas berkeliaran. Pemberian makanan tetap di dalam kandang tersebut dan makanan yang diberikan harus bergizi tinggi. Setiap kali ayam induk tersebut bertelur, telur-telurnya harus segera diambil, supaya tidak dierami oleh induknya. Sebab, ayam mempunyai sifat/naluri mengerami telurnya. Setelah masa bertelur selesai, induk ayam tersebut dimandikan, supaya dapat segera dikawinkan lagi.

2. Perawatan Telur
Telur ayam memiliki struktur khusus yang sebagian besar terdiri dari bahan makanan dan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan embrio, sebagai hasil dari pembuahan sel telur tunggal oleh ayam jantan. Telur ayam terdiri dari kulit telur, selaput putih telur dan kuning telur. Struktur kulit telur ayam keras tetapi porus dan terbentuk dari garam anorganik (terutama calcium carbonat). Keporusan tersebut berfungsi untuk pernafasan embrio.

Telur ayam mudah sekali rusak, terutama apabila perawatan dan penanganannya tidak dilakukan dengan baik. Di samping itu telur ayam juga mudah sekali rusak karena pengaruh keadaan sekelilingnya. Misalnya, kelembaban udara, pencemaran mikroba, jamur, dan sebagainya. Oleh karena itu sebelum telur tersebut ditetaskan, perlu dilakukan penyortiran dan perawatan atau penyimpanan yang cermat.

Penyortiran telur
Telur yang tidak layak untuk ditetaskan harus diafkir (dapat dikonsumsi). Sedangkan telur yang baik untuk ditetaskan adalah sebagai berikut:

  • Kulit telur        :   Berbentuk normal, sehat dan bersih.
  • Kuning telur  :   Letaknya di tengah pusat, tidak terang dan tidak gelap, terjadi pergerakan secara pelan bila telur tersebut diputar di depan lampu candling.
  • Putih telur      :   Terang dan jelas serta bebas dari noda dan bau busuk.
  • Ruang udara  :    Normal.

Telur-telur yang memenuhi syarat tersebut di atas dapat dipilih untuk ditetaskan.

Penyimpanan telur
Telur yang dihasilkan, sebelum sampai pada jumlah yang diinginkan untuk ditetaskan, baik dieramkan maupun dengan menggunakan mesin tetas, perlu disimpan terlebih dahulu.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam menyimpan telur tersebut adalah sebagai berikut:

  • Telur disimpan pada temperatur kamar.
  • Telur ditempatkan sedemikian rupa sehingga:
    – Evaporasi (penguapan air) seminimum mungkin.
    – Tempat penyimpanan harus bersih untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur..
    – Penyimpanan tidak boleh terlalu lama.
    – Aman dari benturan benda lain.

Dengan penyimpanan yang baik, telur yang telah dibuahi oleh sel spermatozoa ayam hutan dapat terlindung dari pengaruh-pengaruh luar.

Baca halaman Cara Mengetahui Kesuburan Wanita

Ciri-ciri Ayam Perak

Ayam perak

Kalau diperhatikan akan timbul kesan pertama jenis ayam ini tipe pesolek yang angkuh. Namun nasibnya tidak pemah baik akibat kekejaman perang Vietnam yang berkepanjangan. Diperkirakan jumlahnya menyusut besar sekali. Di dalam hutan belantara pun rasanya tidak memberi rasa aman untuk berkembang biak. Walau bentuk badannya besar tetapi cukup sigap untuk melarikan diri bila melihat bahaya datang mengancam.

Ciri-ciri ayam Perak (Silver penciled),

Pejantan:

  • Berat rata-rata 3 kg.
  • Kepala berbentuk oval memanjang.
  • Paruh kecil, pendek, berwama kuning gading.
  • Mata warnanya hitam.
  • Wajah berjaringan kulit tebal seperti memakai topeng warna merah
  • Di atas kepala tumbuh jambul yang akan berdiri bila marah, warna biru gelap.
  • Bulu hias pada leher, kecil-kecil, lembut, berwama putih bersih.
  • Bentuk badan ramping memanjang.
  • Bulu dada, badan dan paha berwama hitam kebiru-biruan.
  • Bulu punggung, pinggang dan sayap berwama dasar putih dan setiap ujung bulu berkontur warna hitam.
  • Sayap pendek, menempel ketat pada badan.
  • Bulu ekor sedikit melengkung berwama putih bersih, sedang bulu ekor pokok panjang dan lurus, helaian daun bulu tembus pandang.
  • Kaki besar, panjang, bulat dan kuat sekali, warnanya merah.
  • Jari-jari kaki panjang dan berwama merah juga.
  • Telapak kaki berjaringan halus warna putih.
  • Kuku kecil, panjang dan lurus, warnanya putih tulang.
  • Taji kecil, panjang, melengkung ke dalam, berujung tumpul, warna putih kekuning-kuningan.

Betina:

  • Berat rata-rata 2 kg.
  • Bentuk kepala oval memanjang.
  • Paruh pendek warnanya kuning gading.
  • Wajah bertopeng warna merah darah.
  • Diatas kepala tumbuh jambul pendek warna coklat kemerah-merah-
  • Bentuk badan ramping memanjang.
  • Seluruh bulu berwama coklat kemerah-merahan.
  • Sayap menempel ketat pada badan, tangkai bulu panjang keras dan
  • Ekor panjang, lurus dan menyempit pada ujungnya.
  • Kaki bulat, besar, panjang, berwama merah.
  • Jari-jari kaki panjang berwama merah juga.
  • Kuku kecil, panjang, lurus, warnanya putih tulang.
  • Telapak kaki berjaringan halus warnanya kuning pucat
  • Bertelur paling banyak 10 butir per periode.

Telur:

  • Berukuran besar, bentuknya oval memanjang, warna putih bersih.
  • Setelah dierami induknya selama 21 hari, akan menetas dengan bulu kapas warna kuning pucat bercak-bercak hitam.